SIDIKALANG.METROJAKARTANEWS.ID, Sidikalang - Di tengah ketatnya persaingan dunia akademik, seorang lulusan Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil mencuri perhatian nasional.
Dia adalah Salman Al Farici atau akrab disapa Salman. Ia berhasil merekam jejak prestasi sebagai Juara Ketiga dalam Kompetisi Esai Nasional yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada tahun 2024 lalu, dalam rangka Dies Natalis. Kompetisi bergengsi itu mengangkat tema besar "Gender Equality and Social Inclusion".
Baca Juga:
Pemkab Nias Utara - USU Bahas Pengembangan PSDKU: Lahan hingga Fasilitas Bakal Disiapkan
Bukan soal besarnya ide, tapi soal keunikannya. Itulah prinsip yang dipegang Salman.
"Perlombaan bukan tentang seberapa besar dampak dari suatu ide, melainkan tentang bagaimana keunikan suatu ide di antara ide-ide besar lainnya," ujar Salman dikonfirmasi MetroJakartaNews.id, Minggu (1/11/2026)
Dari situlah, ia memutuskan untuk tidak mengambil topik yang mainstream. Ia justru melirik topik yang tak banyak mendapat perhatian, tapi sejatinya butuh perhatian tinggi: kebijakan perempuan dan pendidikan.
Baca Juga:
Genjot Literasi dan Inklusi Keuangan, LPS Bersama UNIAS Gelar Workshop
Perjuangan Dibalik Tulisan Juara
Perjalanan Salman tidak mudah. Setelah menentukan topik, ia dihadapkan pada kendala data. Keinginannya mengolah topik hingga tuntas membuatnya harus berburu data pendukung yang kuat dan valid.
Kendalanya, data lengkap seringkali berbayar. Beruntung, ia memanfaatkan situs gratis seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan GoodStats.
Kendala berikutnya adalah menghubungkan topik dengan kondisi terkini Indonesia terkait bukti penerapan gender equality secara inklusivitas sosial. Data dari Komnas Perempuan dan UN Women pun ia libatkan. Meski pembahasan tidak disebutkan secara tersurat, kegigihan Salman menuntaskan tulisan itu membuahkan hasil.
Ditambah kesibukannya di dunia akademik dan non-akademik serta masalah pribadi, manajemen waktu menjadi kunci. Ia selalu menyisihkan waktu 30 hingga 50 menit untuk menyusun minimal satu bab dalam esai.
Kunci Menang: Membaca dan Mendengar
Bagi Salman, kunci keberhasilan menulis esai adalah membaca.
"Apapun yang kita lihat di internet atau sesuatu, bahkan itu papan spanduk iklan di jalan, aku pikir kita harus baca itu karena membaca itu membuka pikiran. Bacalah yang berbobot, jadi pilah-pilih apa yang harus kita baca dan apa yang tidak perlu dibaca," ungkapnya.
Tak hanya nonfiksi, kutipan di media sosial hingga novel fiksi pun bisa jadi bacaan inspiratif. Karya-karya pemenang esai terdahulu dari kampus lain yang bisa diakses via website juga menjadi referensinya.
Namun selain membaca, kemampuan mendengarkan yang baik juga penting untuk membuka perspektif baru yang melahirkan ide-ide bermakna.
"Seseorang yang mengikuti esai juga perlu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap isu-isu sosial yang sedang terjadi. Kita menarik benang merah antara isu yang sekarang dengan kondisi yang akan terjadi di masa depan. Itu akan menghasilkan suatu ide baru yang membuat tulisan itu akan [menjadi] lebih unik," tutupnya.
Prestasi Salman menjadi bukti bahwa mahasiswa dari Sumatera Utara mampu bersaing di kancah nasional dengan ide yang bermakna dan konsistensi diri.
[Redaktur: Ropang]