Kendala berikutnya adalah menghubungkan topik dengan kondisi terkini Indonesia terkait bukti penerapan gender equality secara inklusivitas sosial. Data dari Komnas Perempuan dan UN Women pun ia libatkan. Meski pembahasan tidak disebutkan secara tersurat, kegigihan Salman menuntaskan tulisan itu membuahkan hasil.
Ditambah kesibukannya di dunia akademik dan non-akademik serta masalah pribadi, manajemen waktu menjadi kunci. Ia selalu menyisihkan waktu 30 hingga 50 menit untuk menyusun minimal satu bab dalam esai.
Baca Juga:
Pemkab Nias Utara - USU Bahas Pengembangan PSDKU: Lahan hingga Fasilitas Bakal Disiapkan
Kunci Menang: Membaca dan Mendengar
Bagi Salman, kunci keberhasilan menulis esai adalah membaca.
"Apapun yang kita lihat di internet atau sesuatu, bahkan itu papan spanduk iklan di jalan, aku pikir kita harus baca itu karena membaca itu membuka pikiran. Bacalah yang berbobot, jadi pilah-pilih apa yang harus kita baca dan apa yang tidak perlu dibaca," ungkapnya.
Baca Juga:
Genjot Literasi dan Inklusi Keuangan, LPS Bersama UNIAS Gelar Workshop
Tak hanya nonfiksi, kutipan di media sosial hingga novel fiksi pun bisa jadi bacaan inspiratif. Karya-karya pemenang esai terdahulu dari kampus lain yang bisa diakses via website juga menjadi referensinya.
Namun selain membaca, kemampuan mendengarkan yang baik juga penting untuk membuka perspektif baru yang melahirkan ide-ide bermakna.
"Seseorang yang mengikuti esai juga perlu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap isu-isu sosial yang sedang terjadi. Kita menarik benang merah antara isu yang sekarang dengan kondisi yang akan terjadi di masa depan. Itu akan menghasilkan suatu ide baru yang membuat tulisan itu akan [menjadi] lebih unik," tutupnya.