Proyek tambang bawah tanah tersebut dirancang dengan penerapan metode penambangan yang mengedepankan aspek keselamatan, keberlanjutan, dan pengelolaan lingkungan.
Telah banyak kajian yang dilakukan sebelum tambang ini ini dibuka seperti kajian geologi, kajian pabrik (Grinding Circuit Design), Geotechnical Engineering, Kajian Tambang Bawah Tanah (Underground), Kajian Gempa/Seismic Hazard Assessment.
Baca Juga:
Iran Sodorkan Damai 7 Hari, Trump Malah Senewen dan Siap Jatuhkan Bom Lagi
Kajian Metalurgi, Kajian Groundwater, Kajian Limbah B3, Kajian Baku mutu air limbah, kajian estimasi Sumber Daya dan Cadangan Mineral.
Salah satu metode yang disiapkan adalah backfilling, yakni pengisian kembali lubang bekas galian menggunakan material pengisi.
Metode tersebut bertujuan untuk meniadakan Dam Tailing Darat Permanen (Tailing Storage Facilities/TSF), membantu menjaga kestabilan struktur tambang bawah tanah dan mencegah penurunan permukaan tanah serta menjadikan material penutup tambang bersifat inert yaitu stabil secara kimia dan tidak reaktif.
Baca Juga:
Rumah Diskon 70 Persen hingga Duit Rp850 Juta, Kasus Bupati Gowa Makin Terbuka
Selain kegiatan operasional, perusahaan juga menyampaikan sejumlah program lingkungan dan tanggung jawab sosial. Salah satunya penanaman 198.000 bibit mangrove yang disebut telah dimulai pada 2024 di kawasan seluas 60 hektar untuk konversi hutan mangrove di peisir Langkat sebagai bagian dari komitmen lingkungan perusahaan ini.
Bagi masyarakat seperti Siregar, keberlanjutan kegiatan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga menyangkut sumber penghidupan keluarga yang telah bergantung pada penghasilan dari aktivitas tersebut. Ada sekitar 150 orang lebih yang saat ini menjadi bekerja di PTDPM.
Di sisi lain, pelaksanaan kegiatan pertambangan tetap menjadi perhatian publik, terutama terkait aspek lingkungan, keselamatan, pemberdayaan masyarakat, dan pemenuhan ketentuan perizinan.